Taken by Kakak Rona Utami 🙂

“You brighten up our world, Son”

Cuaca sendu dan langit menggantungkan mendung pekat ketika saya duduk di depan layar komputer tanpa sambungan internet. Jauh dari buah hati saya, Ken, saya termenung sendiri mengingat segala perubahan yang saya alami dalam beberapa bulan terakhir ini. Dengan sedikit sesak, saya sendiri takjub bahwa ternyata saya berhasil melewati fase awal menjadi seorang Ibu.

Memasuki fase menjadi seorang Ibu (ternyata) bukan perkara mudah (bagi saya). Berbagai perubahan, baik fisik, mental, maupun rutinitas secara mendadak membuat seorang wanita (Ibu) mengalami tekanan tersendiri.  Itulah setidaknya yang saya alami. Dari mulai proses kelahiran yang (menurut saya) membutuhkan pertaruhan nyawa, perubahan kondisi fisik yang terasa ‘rontok’ (untuk berat badan saya tak kawatir karena langsung kembali normal seperti sebelum hamil), perubahan stamina karena serapan energi yang cukup besar ketika menyusui, perubahan hormon yang membuat seluruh tubuh saya gatal-gatal, perubahan jam tidur yang otomatis membuat mata saya berkantung dan menghitam, perubahan rutinitas yang menjadikan waktu terasa 3x lebih sempit, dan perubahan prioritas yang menjadikan seorang Ibu ada di daftar paling akhir. Bayangkan saja, itu semua terjadi dalam satu waktu!

November 2012

Waktu itu kalender menunjukkan tanggal 17 November 2013, lewat 1 hari dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang diprediksi dokter. Kami (saya dan suami) mulai merasa kawatir dengan bayi kami yang masih ada dalam kandungan. Menurut kebanyakan orang, bayi laki-laki pada umumnya akan lahir sebelum HPL. Itu baru salah satu mitos yang kami terima. Kemudian, Kakak saya juga mengatakan bahwa saya harus waspada kalau terlalu lama lewat dari HPL, air ketuban akan mulai berubah menjadi keruh yang berarti asupan oksigen dan nutrisi mulai terhambat karena pengapuran tali pusar. Belum lagi teman saya berkata bahwa kemungkinan bayi saya belum masuk panggul sehingga saya harus banyak jalan, jongkok-berdiri, dan naik tangga. Saya terima semua informasi, saran dan mitos-mitos tersebut, sembari mengkonfirmasikannya kepada dokter kandungan saya. Sulit rasanya untuk tenang karena pikiran saya terus ke bayi ini. Kekawatiran jika terjadi hal-hal di luar dugaan membuat saya semakin stress.

Pagi itu, dengan gelora semangat dan (sedikit) amarah, saya bertekad untuk melakukan banyak aktifitas fisik yang dapat memacu kontraksi rahim. Saya bangun pada waktu subuh, solat dan mulai melakukan pemanasan dengan jalan pagi di halaman belakang. Halaman saya tidak terlalu luas, sekitar 12 meter panjang dan  3 meter lebar. Saya bolak-balik ukuran panjang sebanyak 50x. Setelah cukup berkeringat, saya istirahat sebentar lalu melanjutkan dengan menyapu halaman depan. Daun-daun pohon mangga bertebaran di jalan, halaman dan parit saya sapu bersih. Kemudian saya masih melanjutkan dengan mencuci baju, mengosek kamar mandi, menyapu rumah, mengepel dan memasak. Done! Bravo!

Sore harinya, kami memenuhi agenda periksa ke dokter kandungan langganan kami, Dr. Rukmono, di rumah sakit Happyland. Jarak rumah sakit ini cukup jauh di selatan kota Yogyakarta sehingga kami harus berangkat sekitar pukul 4.30 agar bisa sampai di tempat tepat pukul 05.00.

Sesampainya disana, saya masuk dalam antrian awal. Saya merasa lega karena dalam pemeriksaan USG, Dr. Rukmono menyatakan semua baik-baik saja.

“Baik. Beratnya cukup, posisinya sudah di bawah”

“Sudah masuk panggul Dok?”, tanya saya.

“Wes rasah dipikir. Belum, tapi nggak papa.”

“Oh gitu ya. Kalau ketubannya cukup? Ari-arinya masih bagus?”

“Ketubannya cukup, ari-ari juga bagus. Sudah, nggak usah kawatir, bagus semua kok.”, katanya menenangkan.

“Lalu saya gimana ini Dok? Kan sudah lewat HPL? Kapan saya harus kontrol lagi?”, lanjut saya tak sabar.

“Ditunggu saja, kalau minggu depan belum ada tanda-tanda langsung ke UGD saja ya, langsung mondok, nanti kita pacu.” katanya tenang.

(Glek) Saya menelan ludah. Jantung saya berdetak semakin kencang. Saya langsung teringat mama dan rekan saya yang bercerita betapa sakitnya dipacu. Kami kemudian keluar dengan perasaan campur aduk. Antara lega karena bayi kami baik-baik saja, dan kekawatiran untuk melahirkan secara dipacu atau bahkan sesar.

Berbeda dengan kondisi hatiku yang risau, rumah kami berlagak tenang seperti biasanya. Sesampainya di sana, kami mencoba melakukan aktivitas seperti biasa. Kami tidur di depan TV sambil menunggu pertandingan sepak bola liga seri A pada pukul 00.00 dan 02.45 dini hari. Waktu menunjukkan pukul 10.30 ketika saya mulai merasakan gerakan bayi yang ‘lain’ dari biasanya. Malam itu dia sangat aktif mendorong ke arah bawah. Karena gerakan itu menurut saya tidak masuk dalam kategori ‘mules’, maka saya belum merasa curiga. Waktu terus berjalan, gerakannya semakin sering. Saya hanya bisa mengaduh setiap kali dia mendorong organ bawah saya.

Waktu menunjukkan pukul 01.30 ketika saya pergi ke kamar mandi dan tecengang karena ada tetasan darah mengalir dari organ bawah saya. Saya langsung menjerit memanggil suami saya dan memintanya langsung membawa saya ke rumah sakit. Sesampainya disana, saya langsung masuk UGD dan diperiksa oleh bidan jaga yan bertugas malam itu.

“Ya Bu, ini sudah bukaan 1.”

Jantung saya berdebar semakin kencang.

“Ibu pulang dulu saja, nanti apabila sakitnya semakin sering, atau ketuban Ibu pecah, Ibu baru kembali kesini. Ibu istirahat dulu di rumah, sebisa mungkin makan yang banyak untuk persiapan energi. Kalau Ibu mondok dari sekarang, kami kawatir Ibu malah semakin stress dan tidak relaks.” Bidan tersebut menenangkan.

Dengan perasaan campur aduk kami pun pulang lagi ke rumah.

“Subuh nanti, kalau semakin sering kita ke rumah sakit lagi saja ya Mas” ujar saya kepada suami.

“Iya, sudah kamu tidur sekarang, kan harus menyimpan tenaga buat nanti.” Suami saya menenangkan.

Saya mencoba tidur disela-sela sakit yang semakin meradang. Waktu terasa melambat. Adzan subuh berkumandang dan saya masih merintih pelan. Beberapa saat kemudian saya melihat jam yang telah menunjukkan pukul 5. Saya melihat suami saya tertidur lelap di samping saya usai menonton bola. Perlahan, saya beranjak bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk dan seketika terdengar suara ‘pyok’ yang menandakan ketuban saya telah pecah.

Jantung saya langsung terpacu. Saya panik! Saya bangunkan suami saya dan segera menelfon kakak saya untuk memastikan bahwa benar ini adalah air ketuban. Alirannya deras dan warnanya bening disertai sedikit bercak darah. Sakit yang meradang juga secara signifikan meningkat tajam. Kalau saya boleh menggunakan angka, mungkin saya akan menuliskan 1:7 (satu banding tujuh).

Perjalanan ke rumah sakit adalah siksaan tersendiri. Goyangan mobil karena polisi tidur dan lubang di jalanan membuat saya merintih kesakitan. Belum lagi ketuban yang terus mengalir membuat saya semakin tidak tenang.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung masuk UGD dan langsung dilarikan ke ruang bersalin. Saya kemudian diperiksa kembali oleh bidan jaga.

“Ya Bu, ini air ketuban, dan sekarang Ibu bukaan 1,5” kata sang Bidan.

“Apa??!! Baru nambah 0,5 dalam 4 jam?! Oh Tuhan…” batin saya.

Setelah dicek detak jantung bayi, tensi, dan jeda kontraksi, saya diperbolehkan masuk ke kamar pasien yang telah dipesan suami saya. Rintihan saya semakin menjadi. Saya genggam tangan suami saya sekeras mungkin, dan air mata saya mulai menetes. Saya tidak bisa makan, saya hanya bisa minum susu dan mengemut coklat.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 ketika seorang suster datang untuk mengukur tensi saya.

“Kapan saya diperiksa bukaannya lagi? Apa dokternya sudah dihubugi?”

“Nanti Bu, jam 11. Tidak boleh terlalu sering dicek, karena kan ketubannya sudah pecah”

“Oh Tuhan, jam 11 itu masih 4 jam lagi.” Batin saya.

Rasanya, bisa setiap detik saya memandangi jam dinding di hadapan saya. Tubuh saya semakin lemas, rintihan saya semakin menjadi, tangan saya dingin dan tubuh saya gemetar setiap kali kontraksi datang. Sekitar pukul 09.00 suami saya memanggil suster jaga.

“Mbak, mengapa istri saya sampai gemetar seperti itu?” tanya suami saya.

“Proses mau melahirkan memang seperti itu, Pak.” Jawabnya.

Banyak hal yang dilakukan Mama dan Mami (panggilan untuk mertua saya) yang berusaha menenangkan saya dengan memijat tubuh saya, membujuk saya makan, dan memberikan pikiran-pikiran positif. Tapi apa yang saya rasakan tidak kunjung membaik. Saya merasa sangat lemas dan semakin tak tahan akan rasa sakit yang mendera.

Akhirnya jam dinding menunjukkan pukul 11.00 yang artinya sebentar lagi suster akan mengukur bukaan saya. Mereka mengukur tensi saya (lagi), memeriksa detak jantung bayi saya,  dan tentu saja bukaan saya.

“bukaan tiga Bu” katanya.

“Ya Tuhan.. jam berapa akan lahir kalau sekarang baru bukaan tiga” batin saya tanpa bisa berkata-kata.

Tak lama setelah itu, Dr. Rukmono datang dan memeriksa keadaan saya. Dia menyuruh saya merelakskan seluruh otot tubuh dan hanya berkonsentrasi untuk mengatur nafas. Dia melarang tangan saya memegang apapun, kaki saya menekuk dan bahkan dia juga melarang saya mengernyitkan dahi. Tugas saya hanya relaks dan melakukan pernafasan dengan benar.

“Gini terus ya Mbak, nanti jam 3 lahir!” dengan percaya diri Dokter itu menghipnotis saya. Saya pun mengikuti sarannya. Saya lemaskan seluruh otot saya dan saya terus mencoba berkonsentrasi pada pernafasan.

Tatapan saya kosong saat itu, badan saya lemas tanpa tenaga. Saya ingat sekali pada saat itu, tatapan saya hanya tertuju pada sebuah pohon yang ditanam di atap gedung sebelah sebagai pusat konsentrasi saya. Saya tak bisa makan apalagi menelan obat, hingga saya dipaksa mengunyah antibiotik yang harus masuk ke tubuh saya. Dan ajaibnya kali ini saya berhasil mengunyahnya obat sepahit ini tanpa muntah.

Terus berjalan seperti itu, terbaring lemas dengan tatapan kosong hingga tiba-tiba ada gumpalan besar dari rahimku mendorong keluar dengan kekuatan penuh.

“Mamaaaaa, aku mau ngedeeennnn” teriakku.

Mama bergegas memanggil suster dan bidan jaga untuk memeriksaku.

“Iya Bu, bukaannya sudah lengkap.  Langsung ke ruang bersalin ya”

Saya pun dibawa ke ruang bersalin sambil merintih menahan bayi yang terasa sudah benar-benar di ujung tanduk.

“Tahan Bu, ini bayinya masih agak di dalam, jangan ngeden dulu, dokternya belum datang” kata bidan itu.

“Gak bisa Mbak. Saya nggak tahan” ujar saya sambil mengalirkan air mata.

Saya sadar betul tangan bidan itu masuk ke vagina saya untuk menahan bayi saya agar tidak keluar. Jeritan saya terus membahana di ruang itu. Jauh lebih histeris dari adegan melahirkan di film yang sering saya tonton.

Tak lama, Dr. Rukmono masuk ke ruangan dengan tergesa. Samar-samar saya mendengarnya mengatakan, “Aku tuh kena macet di rel kereta teteg lempuyangan itu hlo”. Tapi apapun alasannya, rasanya aku ingin menghujat dia karena perjuanganku menunggunya terasa sangat lama.

Begitu beliau siap pada posisinya, dia langsung memberiku kode padaku untuk mengejan.

“Ayo siap Mbak, 1.. 2.. 3!!”

Dan dengan dua kali mengejan, aku rasakan sesuatu yang luar biasa keluar dari perutku yang diikuti suara tangisan bayi kecilku. Air mataku meleleh, lega dan sangat terharu. Begitu juga dengan suami saya, samar-samar aku melihatnya terpana dan sama terharunya denganku. Sang bidan menunjukkannya pada kami sembari berkata,

“laki-laki Bu, lengkap semua”

“Alhamdulillah….” senyum pun merekah di wajah kami berdua.

Lalu sesaat kemudian adzan dikumandangkan pada telinga si kecil, dan kemudian dia di taruh di dadaku untuk proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Sesuai dengan rencana kami, bayi mungil ini kami beri nama “Laskhmana Ken-Djnana” yang artinya seorang bangsawan berilmu yang selalu membawa keberuntungan. J

“Seribu doa dan harapan kami tertuju padamu, Nak.. Semoga kelak kau akan bisa menaklukan dunia dengan tajamnya pemikiranmu, dan kebaikan akhlakmu..”

Just born Ken.. 🙂

Ken – 1st day

Ken’s expressions – 1st Day 🙂

Papa berjemur pagi bersama Ken 🙂

 “Terima kasih suamiku, untuk kesabaran dan kekuatanmu menemani kami dari masa kehamilan hingga Ken lahir ke dunia. You are the best and we always love you!”

4 Response Comments

  • iebthie.dj  May 16, 2013 at 9:57 pm

    ran..ikut deg2an bacanya..
    serasa aku yg nglahirin..(blom pernh normal soale)..
    mestinya kamu ngundang caslo wktu itu buat jd pusat konsentrasi..sambil nginget ‘insiden’ jaman doeloe..hehe
    postinganx keren2,inspiring..
    sukses deh jd great WP,mother,wife&daughter. Amin.
    peluk cium buat dede Ken ya..

    Reply
    • Rani Ariana  June 28, 2013 at 7:02 am

      @Ibtie : Anak ketiga nanti normal Ib! Nanti berasa bener ajaibnya hehe..
      Hahaha.. ono Caslo malah buyar konsentrasiku Iiiibbb :))
      Makasih ya Umi Ibtii,, AAAmmmiiiinnn :*

      Reply
  • ano  June 19, 2013 at 6:23 pm

    wakakaka Dokter e njaluk di tapuk i kui Ran

    Reply
    • Rani Ariana  June 28, 2013 at 7:17 am

      Haduh piye le napuk No? Wes ra duwe tenogo wkwkwk..
      Apa kabare Tjetta?

      Reply

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.