Tiba-tiba dadaku sesak, terus turun menekan lambung dan rahimku. Hilang semua nafsu makan, sementara janinku mendadak tegang. Kupejamkan mata, kutarik nafas dalam-dalam, berharap aliran udara dalam paru-paruku itu bisa menenangkan ledakan emosiku. Gagal. Suara wanita iblis itu masih terngiang jelas di telingaku.

“Dasar goblok!! Ceroboh!! Mengapa hal sepenting ini bisa terlewatkan? Saya perhatikan kinerjamu menurun sejak kamu mengandung!! Aahh.. wanita hamil memang selalu tidak produktif dan lamban!! Perusahaan rugi gara-gara kamu tahu?!!” sengit wanita separuh baya itu menyentakku dengan angkuh di tengah keramaian kantin kantor siang itu.

“Hidup adalah memilih. Tanpa pilihan adalah mati. Setiap pilihan punya konsekuensi. Konsekuensi bisa bermakna mati. Mati rasa, mati raga, mati hati.”

Ini sudah kedua kalinya aku mengandung. Kandungan pertamaku kandas bersamaan dengan sebuah perhelatan akbar rapat koordinasi (rakor) sebuah partai di Kalimantan dua tahun lalu. Saat itu,kandunganku masih empat bulan.

Salahku memang, karena saat itu aku mengandung di luar ikatan kelembagaan yang orang sebut ‘pernikahan’. Keadaan masa itu terlalu sulit untuk digambarkan, bahkan terlalu rumit untuk diingat. Saat itu aku berusia 23 tahun, baru 6 bulan lulus kuliah, dan 4 bulan bekerja di perusahaan ini. Bingung dan takut meliputi perasaanku. Kami belum punya apa-apa. Bahkan kedewasaan sekalipun. Suamiku lebih muda setahun dari usiaku dan saat itu masih menyelesaikan kuliah di semester akhir. Dia jauh lebih bingung dan takut daripada aku. Tanpa penghasilan, tanpa gelar, dia sama sekali tidak punya keberanian. Serba sulit dan dunia bagaikan neraka. Tapi bukan berarti aku tidak menginginkan bayi itu! Itu anakku, dan seburuk apapun keadaanku, aku tetap ingin dia lahir dengan sempurna ke dunia.

“Sa.. sayang, bagaimana jika kita gugurkan saja bayi itu?”, kata kekasihku terbata-bata.
“Jangan!Gila kamu!! Sekalipun kau meninggalkanku, aku tetapmempertahankan kandungan ini!” ledakku padanya.

Setelah melalui proses penenangan diri yang cukup panjang, akhirnya kami beranikan diri untuk mengatakannya sejujurnya pada orang tua kami. Air mata dan kemarahan mereka tumpah ruah pada kami. Terlalu banyak cacian dan teriakan di telinga kami. Terlalu banyak untuk diceritakan, bahkan untuk sekedar diingat. Namun, setelah melewati sederatan ledakan emosi dan keperihan mendalam itu, atasnama kebesaran Tuhan, kami akhirnya menikah kala kandungankuberusia dua bulan.

Bahagia, walau tak bisa dikatakan benar-benar bahagia. Tapi,mengingat bayiku akan lahir di tengah sebuah keluarga yang utuh, itumembuatku cukup merasa bahagia. Hanya aku dan bayiku, tapi tidak dengan keluargaku.
Pernikahan sederhana itu berlangsung ala kadarnya. Tanpa kemewahan, tanpa suka cita. Tanpa keceriaan dan kebahagiaan layaknya sebuah upacara sakral yang biasa kulihat. Lingkaran hitam dan kantung mata yang jelas tergambar di wajah ibuku, wajah murung dan tarikan nafas yang berat dari ayahku, menyadarkanku pada keadaan yang sebenarnya. Bahwa aku telah menyakiti mereka terlalu dalam.

“Ibu, maafkanlah aku. Aku tahu aku nista. Aku tahu aku telah menyakitimu terlampau dalam, Bu. Tapi kumohon, tetaplah sayangi aku, ijinkan aku tetap menjadi anakmu, Bu.”, kalimat itu berulang aku ucapkan saat prosesi sungkeman hari itu.

Deraian air mata tak habis-habisnya keluar dari pelupuk mataku yang membengkak ini.

“Jika dunia runtuhpun engkau tetap anakku, sayang. Jaga cucuku baik-baik.” Hanya itulah yang terucap dari mulut ibu saat itu. Dia terus menangis tanpa bisa berkata-kata lagi.

Setelah ritual formalitas itu, aku tetap melanjutkan perkerjaandan mencoba menjalani hariku dengan biasa. Aku lebih dari yakin seluruh rekan kantorku mengerti apa yang terjadi padaku. Muntah-muntah yang menjadi rutinitasku di pagi hari dan pengumuman bahwa akutelah menikah mendadak membuat kasak-kusuk publik terbentuk dengan sangat cepat, dan (kebetulan) tepat.

“Retno, sudah berapa bulan kandunganmu?” tanya wanita itu dengan sinis di suatu siang.
“Tiga bulan. Duabelas mingggu, Bu,” jawabku.
“Lalu bagaimana dengan proyek yang sedang kau kerjakan? Ini akan tetap jadi tanggungjawabmu. Jangan coba-coba jadikan kandunganmu sebagai alasan!” ucapnya menusuk relungku.
“Ya, Bu,” jawabku singkat. Ragu. Ya sebenarnya aku ragu. Tapi demi pekerjaan ini, dan demi sedikit uang tambahan yang biasanya aku dapat setelah menyelesaikan sebuah proyek, aku nekat. Ya, aku butuh pekerjaan ini.

Tiga minggu berselang, berangkatlah tim kami ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kota kecil di tengahpulau terbesar di Indonesia. Cukup terpencil pikirku, karena pesawat kami harus turun di Banjarmasin dan baru dilanjutkan dengan mobil ke kota tersebut. Medan berat, tebing-tebing terjal, dan jalan yang super rusak, membuat perutku berkali-kali memuntahkan isinya.

“Hanya mabuk kendaraan. Aku kuat,”batinku.

Setelah delapan jam perjalanan, kami tiba di tempat pelaksanaan acara. Rapat koordinasi sebuah partai berlambang banteng untuk wilayah Kalimantan. Rapat tahunan dengan seribu peserta ini sengaja dibuat di Palangkaraya dengan maksud menghimpun suara rakyat ‘kecil’ di kota itu. Disertai dengan program ‘berbagi’, umbaran janji dan kata-kata manis, rakor ini terasa begitu naif bagiku.

“Ah, politik selalu kotor! Mana ada yang bersih. Terkutuklah kau para politikus!”batinku.

Acara ini akan berlangsung selama empat hari. Dan tiga hari telah terlewati dengan baik, dengan minimnya komplain dari para peserta. Aku sebagai asisten koordinator saat itu cukup merasa tenang dengan lancarnya acara tersebut. Walaupun jam kerja kami gila-gialaan, tapi kami puas dengan hasilnya.

Di hari ketiga pelaksanaan, kami bekerja hingga cukup larut. Pukul 3.30 dini hari, saat terakhir kali aku melihat jam tanganku, sebelum kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Keesokan pagi, segala sesuatu terasa normal, kecuali perutku yang terasa kencang dan mulas. Dengan berbekal tekad, aku meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja, bahwa itu hanya gejala biasa ketika aku bekerja terlalu letih.

“Hari terakhir,” kataku.

Dengan menahan rasa sakit di perutku, aku tetap menjalani rutinitas:memeriksa daftar hadir peserta, sound system, letak kursi VIP, letak mikrofon, kesiapan pengisi acara, konsumsi, kru yang bertugas, dan tentu saja mengecek keberadaan sang bintang utama yaitu Ketua Partai.

Waktu menunjukkan 09.30 ketika perutku mendadak sakit luar biasa. Acara sudah dimulai, dan aku berada pada pojok belakang ruang pertemuan. Dalam keadaan berdiri, kucoba menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Sesaat penglihatanku hilang, namun aku tersadar lagi. Tak berapa lama, aku merasakan aliran air sepanjang kakiku.

“Air apa ini?” batinku kaget.

Dengan menunduk lemas, aku melihat arah betisku yang terbuka, dan kulihat aliran air iru berwarna merah. Sekian detik aku melihatnya, dan menyadari bahwa itu adalah darah.

“Oh, tidak. Ya Tuhan…,” dalam keadaan lemas, air mataku bergulir, duniaku gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Entah berapa lama aku jatuh pingsan. Ketika aku membuka mata, aku berada di ruangan dengan tembok putih dan infus sudah terpasang di tanganku. Aku berada di rumah sakit. Tak lama, seorang dokter datang menghampiriku.

“Selamat sore Ibu Retno, perkenalkan saya Sherly, dokter kandungan di rumah sakit ini.”, sapanya dengan senyuman kaku.
“Bagaimana dengan janin saya?” sontakku dengan spontan.
“Ibu, Ibu tenang dulu ya. Saya akan jelaskan kepada Ibu semua yang ingin Ibu ketahui. Namun sebelumnya, dimanasuami Ibu saat ini?”
“Suami saya di Yogya, Dok. Mengapa Ibu menanyakan suami saya?”
“Tidak apa-apa Bu, saya fikir suami Ibu ada disini, sehingga saya bisa menjelaskan langsung kepada kalian berdua secara bersamaan.”
“Ada apa sebenarnya, Dok?” tanyaku lemah. Pikiranku sudah kacau, dadaku sesak.
“Bu, mohon maaf saya harus mengatakan ini, bahwa bayi dalam kandungan Ibu sudah tidak bernyawa. Detak jantungnya telah berhenti setelah terjadi pendarahan tadi.”

Dunia seakan runtuh seketika. Aku tak bisa bernafas lagi. Air mataku mengalir deras sekali tanpa bisa kubendung, tapi tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku.

“Bu, tindakan medis pembersihan rahim harus segera dilakukan. Ditakutkan nanti Ibu bisa terkena infeksi jika terlalu lama,” lanjutnya.

“Sabar ya Bu, InsyaAllah setelah proses operasi ringan ini dan pengobatan, Ibu bisa segera mengandung lagi,”ucapnya lembut bermaksud menenangkanku.
“Enak saja bicara!! Kau pikir mudah untuk menghadapi persoalan seperti ini dan berfikir bahwa aku akan bisa cepat mengandung lagi!!”batinku disela isak tangisku yang semakin lama semakin keras. Tak ada suami, tak ada kerabat, dan tak ada rekan. Ah ya, teman-temanku pasti tidak bisa meninggalkan acara yang masih berlangsung itu.
“Lakukanlah yang terbaik,” jawabku datar. Dan dokter itupun mengangguk sembari mengatakan,“pastiBu.”.
Proses operasi kiret itupun dilakukan. Pasca operasi aku masih harus berada di rumah sakit selama tiga hari. Teman-teman kerjaku telah kembali ke Yogya. Atasanku tak memperbolehkan satupun orang untuk tinggal menemaniku. Aku hanya diberikan tiket pulang dan beberapa surat yang harus aku tandatangani.

Aku baca surat-surat tersebut. Salah satunya adalah surat pernyataan ijin dan lalai terhadap tugas. Surat lainnya mengatakan pernyataan cuti, dan satu surat lagi menyebutkan bahwa semua biaya rumah sakit telah dibayarkan oleh perusahaan dan akan dihitung sebagai hutangdan pembayaran akan secara otomatis dipotongkan pada upah setiap bulannya.

“Mengapa surat ini harus diberikan padaku sekarang? Mengapa tidak di Yogya?”kataku lirih. Bergetar tanganku karena marah, bingung, sedih. Tapi apa daya. Tak ada yang bisa aku lakukan. Semua telah terjadi. Aku kehilangan anakku, dan harus menanggung semua kekejian perusahaan atas musibahku.

“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan aku tak bisa menjagamu. Kembalilah kepada Tuhanmu. Dunia ini kejam, Nak. Mungkin kau akan muak hidup disini. Bertemu orang-orang tanpa hati. Lebih baik kau hidup di surga. Damai dan bahagia.”

“Jaga ucapan Anda, Bu!”, dengan lantang aku menantang wanita yang tidak terlalu tinggi itu.
“Seandainya saya Ibunda Anda masih hidup dan melihat perlakuan Andasaat ini, saya yakin, beliau menyesal telah melahirkan Anda di dunia!! Anda wanita, tapi tak pernah jadi wanita!!”.

Kemarahanku memuncak. Aku sudah tegak berdiri berhadapan dengannya. Satu tanganku mengepal kencang, dan satu tangan lagi menunjuk tepat di depan hidung buatannya itu. Jantungku berdetak bagai aku baru saja berlari setidaknya lima kali berkeliling stadion. Hampir saja aku menambah kekejaman dengan meludahi wajah yang berekspresi aneh itu. Tapi kutahan. Aku tak mau ikut hina dengan melakukan itu padanya.

“Cukup Bu, saya resign. Terima kasih atas penghidupan yang Ibu berikan pada seluruh penghuni neraka ini. Selamat siang.” Dengan mantap aku melangkah. Naik ke lantai dua dimana meja kecil jelek tempatku biasa bekerja diletakkan, membereskan barang-barangku, dan dengan langkah secepat mungkin meninggalkan tempat jahanam itu.

Terus kuingat wajahnya yang sudah dalam puncak kemarahan. Matanya terbelalak merah, bibirnya terkatup rapat saking tak bisa berkata-kata. Sekilas aku berpikir wajah artifisial itu semakin aneh. Apakah alis yang terletak terlalu jauh dari mata itu baru saja ditato ulang? Atau karena kemarahannya sehingga posisinya menjadi jauh lebih aneh dari biasanya. Aku terus berjalan menuju halte bus terdekat sambil terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku pasti bisa bertahan. Aku pasti masih bisa berkarya. Tapi tidak disini. Tidak di tempat yang tidak memuliakan kehidupan. Wanita itu tak pernah sadar, bahwa selain Adam dan Hawa, kehidupan dimulai dari rahim ini.

“Tenang Nak, kali kau selamat. Ibu bersumpah akan melindungimu,”janjiku sambil memeluk erat perutku sendiri. []

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.