Oleh Rani Ariana
—
AKU INGIN
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
(1989)
Ramuan indah untaian kata oleh pujangga satu ini tak henti-hentinya dapat meluruhkan hati setiap orang yang membacanya, lintas zaman. Bagai seorang pesulap yang bisa mengubah kertas menjadi seikat bunga, ia bisa membuat larik demi larik karya puisinya memiliki nilai dan makna yang jauh lebih dalam dari makna eksplisitnya (tekstualnya). Tak dipungkiri penyair legendaris ini berhasil menggosok besi menjadi sebongkah berlian yang berkilauan dan memukau bagi para penikmat sastra Indonesia. Dengan imajinasinya, ia mengajarkan “metafora-metafora baru” yang membuat untaian kata-kata itu menjadi luar biasa indah.
