The Dew of Reflection

Dew

Every dew has heaven in it – Luapo by www.mopo.ca

Who are you? | Nobody | Why are you here? | Nothing

Do you talk to me? | Yes | But why you are silent? | I talk to you by heart, don’t you hear my voice?

What do you see? | A blur light | What is in your eyes? | Nothing, just a slight of the dew of reflection

Heaven? | I think so | Is it real? | Nobody knows

Square? | Circle | Triangle? | Prism

November 13, 2011

On my knees

The Sixteenth of September

The Sixteenth of September, by Rene Magritte (taken from http://blog.tate.org.uk/)

I’m on my knees.

Begging for mercy.

I see nothing.

I see no light.

Dark. Empty. Stifling.

Cannot breathe.

Cold, but no blanket.

Thirsty, but no water.

The moon is faded.

I’m dancing in the dream.

I’m melting in love.

Brighter sun.

Peace. Happiness. Romance.

Yes, I’m begging,..

At any price to be there.

Just a dream, be the women behind it all..

Making the big day happens – Part I

Setiap orang memiliki ‘dream job’ mereka masing-masing. Ada yang ingin menjadi penulis, aktor, dosen, sutradara, ibu rumah tangga (pekerjaan paling mulia), PNS, dan lain sebagainya.

Dan saya pun punya impian tersendiri untuk menjadi seorang wedding organizer. Ya, sebuah pekerjaan dimana seseorang mau repot-repot (bersenang hati) mengurus dan mengatur segala tetek bengek kebutuhan sebuah pernikahan orang lain, menguras pikiran dan tenaga untuk membuat acara tersebut menjadi lancar, sempurna, indah, berkesan, dan menjadi hari paling memorable buat kedua mempelai, dan bahkan terkadang, hingga mengesampingkan keinginan pribadinya sendiri untuk menikah.

Entah energi apa yang membuat saya sungguh bergairah dengan pekerjaan yang satu ini. Mungkin satu hal yang pasti, saya suka melihat orang bahagia. Dan asumsi saya sebagai seorang wanita kolot, oldfashioned, sebuah pernikahan akan selalu menjadi salah satu hari terindah bagi sang mempelai, satu hari sakral yang menyatukan dua insan berbeda dalam sumpah setia, dan satu hari yang melebur batas-batas kemanusiaan menjadi satu jiwa. Hanyut dalam asumsi itu, saya membayangkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempurnaan dalam pernikahannya, tak terkecuali orang-orang yang ‘kurang’dalam hal pendanaan.

Yeah, dream a little dream, soon or later, sampai kapanpun, saya akan tetap memimpikan perkerjaan ini. But, never mind! Selama saya masih bisa membantu (secara resmi ataupun tidak), status ‘job’ itu tak melulu penting bagi saya.

Mari kita mulai sedikit brainstorming tentang konsep merancang sebuah acara pernikahan. Pertama, yang menurut saya penting adalah mimpi dari sang mempelai! Kenapa? Setiap orang (umumnya) punya mimpi, angan-angan, idealisme, mengenai hari penting ini. Dan dari hal ini, gambaran kesempurnaan (bagi mempelai) dari rangkaian acara dapat disketsakan.

*Catatan I, kebanyakan orang tidak berani berangan-angan terlalu sempurna karena mereka keburu takut dengan berbagai keterbatasan. Tapi heiii, sebenarnya tak ada yang salah dengan sikap perfectionist dan idealist!! Justru 2 hal ini adalah kunci penting untuk mencapai hasil maksimal dalam setiap hal yang kita kerjakan. So please be perfectionist and idealist!

Pada kesempatan ini, mari kita lihat secara umum satu persatu langkah-langkahnya (secara detail akan dibahas pada essai berikutnya).

Perancangan konsep. Konsep dalam beberapa tafsir bisa berarti rancangan atau ide yang menunjuk pada representasidari obyek yg ada di luar subyek (benda, peristiwa, hubungan, gagasan). Nah, dalam hubungannya dengan pernikahan, konsep merupakan gagasan awal/dasar yang akan mempengaruhi seluruh pengemasan acara. Konsep dasar ini secara sederhana biasanya akan berawal dari bentuk tema, lalu baru setelah itu merambah ke komponen-komponen di dalamnya. Konsep dapat terinspirasi dari banyak hal, misalnya dari majalah, internet, hobi, ataupun ide kreatif dari mempelai. Sebagai contoh, apabila temanya adalah Jawa kontemporer (modern) dengan tone warna pilihan emas dan merah, maka komponen-komponen lain (ragam busana, rias, dekorasi, dsb) dalam acara ini akan merujuk pada tema tersebut. Maka contoh komposisinya adalah busananya mengenakan busana adat Jawa modern berwarna emas, panggung menggunakan kombinasi dekorasi bunga dan kain berwarna coklat, merah, dan soft gold, undangan berwarna peach, dan para penerima tamu mengenakan seragam berwarna coklat tembaga (coklat kekuningan).

*Catatan II, jangan takut menambahkan beberapa warna diluar tone warna yang telah ditentukan agar desain tidak monoton dan kaku. Tentu saja gunakan warna-warna gradasi dari tone warna, untuk tetap menjaga keserasian dari keseluruhan desain.

Hal penting lain dalam tahap pengonsepan adalah anggaran dana! Pada saat pengonsepan, kita tidak perlu berpusing-pusing dahulu mengatur pendanaan, namun tetap penting untuk mengetahui maximum budget yang tersedia. Hal ini diperlukan untuk menghindari over budget pada tahap persiapan nanti.

Setelah sesi perancangan konsep ‘matang’, kita memasuki tahap pre-wedding preparation. Dalam tahap ini cukup banyak yang harus dilakukan, mulai dari pemilihan dan pembuatan daftar komponen (checklist dan to do list), survey, melakukan pemesanan, perancangan desain, penghitungan tamu, pengedaran undangan, pencarian pengisi acara dan lain sebagainya. Persiapan ini memerlukan ketelitian, ketelatenan, waktu, dan energi yang besar karena dalam tahap ini kita akan berhubungan dengan banyak sekali pihak dan komponen.

Apalagi, jika rangkaian pernikahan ini akan terdiri dari beberapa acara (contoh dalam adat Jawa: siraman, midodareni, akad, dan resepsi). Secara garis besar, tahap ini akan beralur seperti demikian: pengumpulan informasi – survey – penentuan komponen dan vendor – pembayaran uang muka – perancangandesain – telaah ulang – siap untuk pelaksanaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari tahap ini adalah kesesuaian dengan tema dan anggaran. Namun ingat, dalam sebuah acara, tema dan anggaran sangat mungkin untuk bergeser atau menyesuaikan keadaan di lapangan. Hal ini sering terjadi setelah survey dilakukan. Fleksibilitas dan ketepatan mengolah komponen dalam menjadi poin kunci agar semua tetap dapat berjalan sesuai keinginan.

Hati-hati! Kesalahan kecil dalam tahap ini dapat menimbulkan dampak fatal yang bisa berakibat kerugian dana, menambah beban kerja, ataupun mempengaruhi kesuksesan acara. Sebagai contoh, kesalahan dalam penulisan undangan mengharuskan kita mencetak ulang undangan tersebut.

Dan tibalah pada saat pelaksanaan acara pernikahan, The wedding day! Di hari pelaksanaan, 1 hal yang terpenting adalah kesehatan mempelai, seluruh keluarga dan panitia yang terlibat. Bisa dibayangkan jika tiba-tiba pengantin pingsan di atas panggung? Wah, bisa batal acaranya!

Setelah hal penting pertama, barulah kita berbicara tentang komponen acara. Walau semua telah dipersiapkan sebelumnya, kita tidak boleh lengah dan mempercayakan seluruh komponen kepada vendor yang telah kita sewa. Kita juga perlu mencermati dan mengawasi apakah segala sesuatu yang diberikan para vendor tersebut telah sesuai dengan yang kita pesan.Pastikan semua datang tepat waktu, tertata rapi sesuai desain, dan kita wajib mencek lagi satu-persatu komponen yang ada pada daftar yang telah dibuat sebelumnya.

Perlu diwaspadai, bahwa pada pelaksanaan sering timbul masalah yang di luar dugaan. Misalnya saja tiba-tiba salah seorang penerima tamu jatuh sakit sehingga tidak bisa bertugas, atau tiba-tiba mobil pengantin mogok dijalan. Apabila hal ini terjadi, kita harus segera sigap untuk membuat solusi! Carilah secepat mungkin subsitusi dari hal tersebut, kali ini jangan terlalu perfectionist agar hal tak terduga tersebut tidak mengakibatkan kerugian lain, misalnya molornya waktu pelaksanaan acara, dan lain sebagainya.

Setelah semua siap, acara pun dapat dimulai. Saat berjalannya acara, panitia perlu selalu mendampingi MC, pengisi acara, dan vendor-vendor lain. Hal ini diperlukan, agar panitia dapat ikut mengendalikan acara, terutama yang sifatnya spontan. Sebagai contoh, ketika ada tamu penting hadir dan langsung diminta untuk berfoto dengan mempelai, MC dapat segera mempersilakan tamu tersebut. Pendampingan panitia harus dilakukan terus menerus hingga acara selesai.

Nah, bagaimana? Apakah brainstorming ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang tahapan-tahapan persiapan pernikahan Anda?

Happy wedding!! 🙂

Karena hidup bagaikan sebuah buku

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Kau bebas menuliskan apapun di dalamnya. Ini bukumu, dan kau tuliskan sendiri kisahmu. Kau bebas membuat cerita itu berliku, berakhir sedih ataupun bahagia, kau yang memilih dan kau yang menentukan..

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Kau pun bebas untuk menyobek beberapa lembar diantaranya, untuk kau buang ke tempat sampah atau kau hanguskan dalam api..

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Setebal apapun itu, bisa saja kosong, tanpa isi, tanpa makna, dan hanya menjadi sampah kertas. Bisa saja kusam, kusut, menguning, dimakan rayap, berjamur, dan kumal.

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Semoga bukumu adalah buku yang kau sayang,.. yang kau sampul plastik dengan rapi agar tidak terkena tumpahan teh, yang setiap hari kau baca untuk diambil ilmunya, yang terus kau isi dengan tulisan-tulisan berkualitas, dan menjadi buku yang bisa senantiasa memberikan ilmu kepada orang lain yang membacanya..

Dan buku ini adalah bukuku. Ya, bukuku yang akan kubagi denganmu.

Untuk kisah sedih ataupun bahagia…

Espace Culturel Louis Vuitton: Trans-Figurations INDONESIAN mythologies

Trans-figuration Indonesian Mythologies

“WOW!!” dan “Oh really?”

Ya, dua kata itulah yang secara spontan terlontar dari mulut saya ketika pertama kali mendengar berita dari rekan kerja saya,monsiour Jean-Pascal Elbaz (seorang rekan berkewarganegaraan Prancis yang membuka restoran India di Jogja),tentang berangkatnya para seniman Jogja ke Paris, Perancis untuk mengikuti pameran seni rupa di “Espace Culturel LOUIS VUITTON”.

Yeah, Espace Culturel LOUIS VUITTON! Kenapa saya membuat kapital pada LOUIS VUITTON? Karena siapa sih yang tak kenal dengan world brand ini? Selain mendapatkan predikat 16 besar merk dalam ‘The 100 Best Global Brands 2009’ versi majalah Businessweek, merk ini memiliki cabang diratusan kota di dunia, sangat digandrungi para pecinta fashion, dan bahkan saking besarnya permintaan pasar, barang tiruannya pun diproduksi secara massal diberbagai negara.

“Espace culturel Louis Vuitton”adalah salah satu bagian dari showroom utama brand Louis Vuitton yang berlokasi di 60 Rue de Bassano (=baca Jalan Bassano no 60), Paris. Ruangan tersebut sengaja dibuat sebagai tempat untuk berekspresi secara artistik dan budaya. Dalam periode tertentu, “Espace culturel Louis Vuitton” menampilkan berbagai karya seni dan budaya dari berbagai negara diseluruh dunia. Lucky us! Karena sejak dimulainya acara ini pada 24 Juni hingga 23 Oktober 2011, galeri ini mengangkat tema Trans-Figurations – Indonesian Mythologies. Sounds cool, isn’t it?! Indeed!

Seperti yang tersurat pada tema tersebut, pameran ini menuangkan berbagai karya yang menggambarkan perkembangan mitologi-mitologi baru dalam kehidupan masyarakat kontemporer Indonesia. Tema ini juga menggarisbawahi bagaimana pergeseran/perubahan kepercayaan terhadap mitos-mitos, karakter, dan identitas pada masyarakat Indonesia masa kini.

Muasal pemilihan tema tersebut bermula dari kunjungan Direktur Espace Marie-Ange Moulonguet ke Yogyakarta. Sebelumnya, Marie-Ange telah melakukan kontak dengan Elizabeth Inandiak, seorang wartawan dan penulis Prancis yang telah melakukan penelitian tentang budaya Jawa sejak tahun 1989. Elizabeth telah melahirkan beberapa buku mengenai tradisi jawa yang salah satunya adalah Serat Centhini: Kekasih yang tersembunyi, yang diterjemahkan dari naskah kuno “Serat Centhini”. Dengan jaringan yang cukup luas, Elizabeth memperkenalkan Marie-Ange kepada beberapa seniman, budayawan dan kolektor seni yang berada di Yogyakarta. Dari perkenalan tersebut Marie-Ange mulai tertarik membawa karya-karya mereka yang berbau mitologi Indonesia untuk dipamerkan di galeri Espace culturel Louis Vuitton.

Bersama kurator pameran Hervé Mikaleloff, Marie-Ange memilih 11 seniman yang karyanya akan dipamerkan di Paris, yaitu Heri Dono, Arie Dyanto, Mella Jaarsma, Jompi Jompet, Agung Kurniawan, Eko Nugroho, Garin Nugroho, AriadyhityaPramuhendra, Eko Prawoto, Bayu Widodo, dan Tintin Wulia.

Dalam pengantar kuratorialnya Hervé menulis: “At the centre of the island of Java is the city of Yogyakarta, a real “hive of artistic activity” marked by its ancient beliefs, its history and its geography, which are a continual source of inspiration for artists”. (Official press release Trans-Figurations Indonesian mythologies)

Masuknya karya-karya seniman kita pada pameran ini, merupakan sebuah prestasi yang tentunya bisa membuka mata warga dunia, dan juga mata warga negara Indonesia sendiri untuk lebih dapat menghargai budayanya. Tanpa bantuan jejaring ataupun project kerjasama antar pemerintah maupun lembaga tertentu, karya seniman Indonesia berhasil secara ‘mandiri’ mengambil hati para pecinta seni dunia dan menorehkan prestasinya ditingkat internasional.

Saya menginformasikan hal ini, tidak lain untuk ikut menyebarkan sebuah kabar gembira agar kita semua bisa berbangga pada buah karya seniman-seniman tanah air. Dan kepada seluruh lapisan masyarakat, pemerintahan, dan lembaga yang berkompeten, untuk dapat terus melindungi dan melestarikan budaya yang ‘masih’ kita miliki.

Beberapa foto di bawah ini merupakan karya-karya yang akan dipamerkan di Trans-Figurations – Indonesian Mythologies.

Heri Dono: Angels Face To The Future

Heri Dono: the Golden Shit Sculpture

Arie Dyanto: The artist the dark wave

Bayu Widodo: Last Flower

Agung Kurniawan: The Portrait of Forgotten Memories

Meela Jaasma: the Fire Eaters

Eko nugroho – Stranger Always Looks Strage

How do i miss my blog so much!

Dear Blog,

I would like to say sorry to you, since i seem like ignoring you for months.

I feel really bad when i see you “not updated”. If only you could hear what my heart says, you will hear the groan of sadness.

It is not so easy to keep the good mood-good health-clear mind-brilliant ideas-spare time, to be together in the same time, so that i could make a good-quality writing to be put on you.

You’re the best present from the best person, then i will keep you as the best blog with the best content!!

Be patient my dear blog! I’ll be back soon because i miss u sooo much!!

Mengupas Tanda Tanya “?”: Mengupas Keyakinanku, Keyakinanmu, dan Toleransi Kita

“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan”

Begitulah sedikit cuplikan dialog dari film “?” (baca: Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang baru saja dirilis pada 7 April 2011 lalu. Film ini mengisahkan kehidupan masyarakat di sebuah kampung di daerah Semarang, Jawa Tengah dengan tiga tempat ibadah agama yang berbeda (gereja, masjid dan klenteng) dalam jarak berdekatan. Perbedaan keyakinan, budaya, serta konflik pribadi menjadi inti dari cerita dalam film ini yang dikemas dengan cukup berkualitas, realistis, sekaligus menarik dan cukup menghibur.

Berkualitas dan realistis

Tidak seperti film Indonesia kebanyakan saat ini, film Tanda Tanya “?” memberikan nilai pembelajaran yang cukup penting untuk disampaikan kepada para penontonnya. Diambil dari kisah nyata kehidupan beragama di Indonesia, film ini menyuguhkan sesuatu yang bisa kita bilang “fresh from reality”. Kenapa? Dalam film ini penonton dibukakan mata dan hati mereka untuk melihat secara objektif tentang beberapa hal yang mungkin sudah luput dari perhatian kita selama ini.

**Sebagai catatan: dalam opini saya, terlalu banyak racun yang setiap hari disuguhkan berita-berita televisi dan surat kabar, yang terkadang hanya mengandalkan 1-2 nara sumber (yang kadang justru menyesatkan), dan dengan pandangan sempit, negatif, bermuatan politik, bahkan bermuatan ekonomi -agar beritanya “laku” dipasaran!- sungguh menjadi racun otak dan penghasut yang mustajab bagi masyarakat kita (karena tak dipungkiri, sebagian besar masyarakat kita mengambil mentah-mentah apa yang dilontarkan si narasumber yang tampil di layar kaca, tanpa mau mencari informasi lebih dalam).

Mengapa saya menilai film ini berkualitas dan realistis?

Pertama, dalam film ini ditunjukkan bahwa konflik yang terjadi di berbagai daerah tidak disebabkan oleh faktor tunggal belaka. Banyak variabel sekunder yang jarang diperhitungkan, yang “nunut” dalam peristiwa-peristiwa tersebut, seperti faktor politik, dendam, ekonomi, dan bahkan faktor cinta. Faktor-faktor itu akan selalu ada (takkan bisa dihilangkan) dan absurb di dalam sebuah kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Dari nilai ini, masyarakat diharapkan paham bahwa hujatan-hujatan dan sumpah-serapah berlebihan terhadap suatu kelompok/pihak/orang/hal tunggal bukanlah hal yang bijak. Karena tidak mustahil, sang faktor sekunderlah yang justru menyulut terjadinya konflik.

Kedua, ada adegan di mana dua orang pemerannya berpindah agama berdasarkan keyakinan hati mereka masing-masing. Adegan ini memberikan penekanan bahwa hak-hak setiap individu untuk memilih, tak perlu diperdebatkan, apalagi dipermasalahkan. Dalam ajaran agama pun sebenarnya hal ini sudah memiliki dasar, seperti ayat yang ada dalam Al Quran di bawah ini, hanya saja individu-individunya terkadang tidak memahaminya, tidak menjalankannya, atau tidak memedulikannya atau bahkan tidak mengetahui sama sekali!.

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Al-Kafiruun:6)

**bahwa perbedaan itu memang akan selalu ada, dan hak itupun melekat pada setiap individu, mengapa harus memaksakan keseragaman yang mustahil sampai-sampai menimbulkan perpecahan?

Ketiga, perbedaan antarkomunitas beragama dan antarindividu memang nyata adanya dan kerap menimbulkan konflik yang pelik, bahkan terkadang hingga menimbulkan perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah yang menelan korban. Namun, di film ini penonton disodorkan harapan baru bahwa hal-hal tersebut ternyata TIDAK MUSTAHIL untuk tidak terjadi. Dan penonton pun bisa paham bahwa toleransi dalam masyarakat yang hetero adalah mutlak. Wajib dan harus, tidak bisa tidak! Jika kita mendambakan kehidupan yang damai.

Menarik dan menghibur

Singkat kata, dalam opini saya, Hanung Bramantyo memang pandai mengemas film ini agar tetap menarik dan memunculkan unsur hiburan di tengah-tengah bobot cerita yang cukup berat. Celotehan-celotehan Surya yang diperankan oleh Agus Kuncoro merupakan salah satu “kunci” munculnya tawa dalam film ini. Gelak tawa terus terdengar dalam ritme tertentu sepanjang film ini diputar. Sungguh menarik! Walaupun tidak dapat dikatakan sempurna, namun perpaduan yang dituangkan dalam film ini cukup menjadikan film ini patut ditonton oleh masyarakat Indonesia dan patut masuk dalam kategori film “bermutu” dalam daftar panjang film Indonesia. []

“Komik Strip” dan Tawa dari Masa ke Masa

“HAHAHAHA… ,” tertawa itu menyenangkan bukan? Konon, saat kita tertawa, kita melibatkan 15 otot wajah dan lebih dari 80 otot di seluruh tubuh kita. Pada saat tertawa itu tubuh kita secara otomatis mengeluarkan zat endofrin yang membuat kita merasa nyaman dan tenang, dan hormon dopamin lah yang membuat kita merasa bahagia.

Tertawa, itulah yang terjadi pada saya, ketika saya membaca Komik Strip Benny & Mice, baik yang terbit mingguan di harian Kompas maupun dari buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), sama halnya saya tertawa ketika membaca komik strip lain yang tak pernah habis ide 🙂

Komik strip, seperti namanya, disebut karena beberapa strip (baris) berisi cerita dalam rangkaian gambar dan diterbitkan secara teratur (biasanya harian [koran] atau mingguan [tabloid, majalah, dsb.]). Di Indonesia, kreasi komik strip dipelopori oleh seorang kartunis peranakan Tionghoa yaitu Kho Wan Gie (belakangan kerap disapa dengan Sopoiku) dengan karyanya si Put On yang diterbitkan pada harian Sin Po di tahun 1930.

Si Put On alias “si gelisah” memang merupakan gambaran kegelisahan masyarakat pada jaman itu yang diulas secara ringan dan bernuansa canda. Jaman berganti jaman, komik ini pun mengalami beberapa perubahan dalam tema yang diangkat dan bahasa yang digunakan. Komik ini tetap bertahan hingga lebih dari 30 tahun (komik strip yang terbit terlama di Indonesia), yang akhirnya habis setelah terjadi huru-hara  G30S menjelang akhir tahun 1965.

Penasaran dengan gaya komik strip tahun 1930an itu? Dibawah ini merupakan salah satu seri dari si Put On yang terbit di harian Sin Po pada 20 Agustus 1930. Dengan bahasa yang bercampur: Melayu, Belanda, China dan Betawi—komik ini mengangkat gaya membanyol pada jamannya. Mungkin bagi kaum muda yang membacanya saat ini, akan sulit untuk memaknai “kelucuannya” dan bisa jadi “terlambat tertawa” atau “read now, laugh later”. Tapi, dulu komik ini sangat digemari dan cukup mengocok perut 😀

Pada masa kini, komik strip masih bertahan dan bermunculan di media-media cetak maupun elektronik. Tak beda jauh dengan komik pelopornya “Si Put On”, komik-komik pada media kini, seperti Panji Komang, Benny and Mice, dan lainnya pun masih mengundang gelak-tawa para penggemarnya melalui topik-topik kondisi sosial masyarakat, sindiran politik, maupun tren artis saat ini.

Berada disela-sela berita yang memusingkan kepala, kartun singkat ini memberikan penyegaran bagi pembacanya. Saya sendiri cukup senang dengan keberadaan komik strip, karena dimana masalah begitu banyak di negeri ini dan tingkat stres yang tinggi dikalangan masyarakat kita, komik strip masih menawarkan TAWA pada setiap edisi 🙂

*Oh Tuhan.. konyol sekali komik-komik ini.. HAHAHAHA!!

Empat dekade puisi-puisi abadi Sapardi Djoko Damono

Oleh Rani Ariana

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

Ramuan indah untaian kata oleh pujangga satu ini tak henti-hentinya dapat meluruhkan hati setiap orang yang membacanya, lintas zaman. Bagai seorang pesulap yang bisa mengubah kertas menjadi seikat bunga, ia bisa membuat larik demi larik karya puisinya memiliki nilai dan makna yang jauh lebih dalam dari makna eksplisitnya (tekstualnya). Tak dipungkiri penyair legendaris ini berhasil menggosok besi menjadi sebongkah berlian yang berkilauan dan memukau bagi para penikmat sastra Indonesia. Dengan imajinasinya, ia mengajarkan “metafora-metafora baru” yang membuat untaian kata-kata itu menjadi luar biasa indah.

Continue reading