The Dew of Reflection

Recent Posts

Sekeranjang Harapan…

Sekeranjang Harapan…

26 tahun sudah saya hidup. 5 tahun bercita-cita menjadi seperti Mama (a “Home-Maker” not “House Wife”!), 7 tahun ingin menjadi dokter, 4 tahun terobsesi menjadi psikolog, 2 tahun berminat pada komunikasi media, 2 tahun mencoba menjadi IT programmer, dan 6 tahun bermimpi menjadi wedding planner. […]

The Dew of Reflection

The Dew of Reflection

Dew
Every dew has heaven in it – Luapo by www.mopo.ca

Who are you? | Nobody | Why are you here? | Nothing

Do you talk to me? | Yes | But why you are silent? | I talk to you by heart, don’t you hear my voice?

What do you see? | A blur light | What is in your eyes? | Nothing, just a slight of the dew of reflection

Heaven? | I think so | Is it real? | Nobody knows

Square? | Circle | Triangle? | Prism

November 13, 2011

On my knees

On my knees

– I’m on my knees. Begging for mercy. I see nothing. I see no light. Dark. Empty. Stifling. Cannot breathe. – Cold, but no blanket. Thirsty, but no water. The moon is faded. – I’m dancing in the dream. I’m melting in love. Brighter sun. […]

Just a dream, be the women behind it all..

Just a dream, be the women behind it all..

Making the big day happens – Part I — Setiap orang memiliki ‘dream job’ mereka masing-masing. Ada yang ingin menjadi penulis, aktor, dosen, sutradara, ibu rumah tangga (pekerjaan paling mulia), PNS, dan lain sebagainya. Dan saya pun punya impian tersendiri untuk menjadi seorang wedding organizer. […]

Karena hidup bagaikan sebuah buku

Karena hidup bagaikan sebuah buku

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Kau bebas menuliskan apapun di dalamnya. Ini bukumu, dan kau tuliskan sendiri kisahmu. Kau bebas membuat cerita itu berliku, berakhir sedih ataupun bahagia, kau yang memilih dan kau yang menentukan..

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Kau pun bebas untuk menyobek beberapa lembar diantaranya, untuk kau buang ke tempat sampah atau kau hanguskan dalam api..

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Setebal apapun itu, bisa saja kosong, tanpa isi, tanpa makna, dan hanya menjadi sampah kertas. Bisa saja kusam, kusut, menguning, dimakan rayap, berjamur, dan kumal.

Karena hidup bagaikan sebuah buku.

Semoga bukumu adalah buku yang kau sayang,.. yang kau sampul plastik dengan rapi agar tidak terkena tumpahan teh, yang setiap hari kau baca untuk diambil ilmunya, yang terus kau isi dengan tulisan-tulisan berkualitas, dan menjadi buku yang bisa senantiasa memberikan ilmu kepada orang lain yang membacanya..

Dan buku ini adalah bukuku. Ya, bukuku yang akan kubagi denganmu.

Untuk kisah sedih ataupun bahagia…

Espace Culturel Louis Vuitton: Trans-Figurations INDONESIAN mythologies

Espace Culturel Louis Vuitton: Trans-Figurations INDONESIAN mythologies

“WOW!!” dan “Oh really?” Ya, dua kata itulah yang secara spontan terlontar dari mulut saya ketika pertama kali mendengar berita dari rekan kerja saya,monsiour Jean-Pascal Elbaz (seorang rekan berkewarganegaraan Prancis yang membuka restoran India di Jogja),tentang berangkatnya para seniman Jogja ke Paris, Perancis untuk mengikuti […]

How do i miss my blog so much!

How do i miss my blog so much!

Dear Blog, I would like to say sorry to you, since i seem like ignoring you for months. I feel really bad when i see you “not updated”. If only you could hear what my heart says, you will hear the groan of sadness. It […]

Mengupas Tanda Tanya “?”: Mengupas Keyakinanku, Keyakinanmu, dan Toleransi Kita

Mengupas Tanda Tanya “?”: Mengupas Keyakinanku, Keyakinanmu, dan Toleransi Kita

“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan”

Begitulah sedikit cuplikan dialog dari film “?” (baca: Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang baru saja dirilis pada 7 April 2011 lalu. Film ini mengisahkan kehidupan masyarakat di sebuah kampung di daerah Semarang, Jawa Tengah dengan tiga tempat ibadah agama yang berbeda (gereja, masjid dan klenteng) dalam jarak berdekatan. Perbedaan keyakinan, budaya, serta konflik pribadi menjadi inti dari cerita dalam film ini yang dikemas dengan cukup berkualitas, realistis, sekaligus menarik dan cukup menghibur.

Berkualitas dan realistis

Tidak seperti film Indonesia kebanyakan saat ini, film Tanda Tanya “?” memberikan nilai pembelajaran yang cukup penting untuk disampaikan kepada para penontonnya. Diambil dari kisah nyata kehidupan beragama di Indonesia, film ini menyuguhkan sesuatu yang bisa kita bilang “fresh from reality”. Kenapa? Dalam film ini penonton dibukakan mata dan hati mereka untuk melihat secara objektif tentang beberapa hal yang mungkin sudah luput dari perhatian kita selama ini.

**Sebagai catatan: dalam opini saya, terlalu banyak racun yang setiap hari disuguhkan berita-berita televisi dan surat kabar, yang terkadang hanya mengandalkan 1-2 nara sumber (yang kadang justru menyesatkan), dan dengan pandangan sempit, negatif, bermuatan politik, bahkan bermuatan ekonomi -agar beritanya “laku” dipasaran!- sungguh menjadi racun otak dan penghasut yang mustajab bagi masyarakat kita (karena tak dipungkiri, sebagian besar masyarakat kita mengambil mentah-mentah apa yang dilontarkan si narasumber yang tampil di layar kaca, tanpa mau mencari informasi lebih dalam).

Mengapa saya menilai film ini berkualitas dan realistis?

Pertama, dalam film ini ditunjukkan bahwa konflik yang terjadi di berbagai daerah tidak disebabkan oleh faktor tunggal belaka. Banyak variabel sekunder yang jarang diperhitungkan, yang “nunut” dalam peristiwa-peristiwa tersebut, seperti faktor politik, dendam, ekonomi, dan bahkan faktor cinta. Faktor-faktor itu akan selalu ada (takkan bisa dihilangkan) dan absurb di dalam sebuah kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Dari nilai ini, masyarakat diharapkan paham bahwa hujatan-hujatan dan sumpah-serapah berlebihan terhadap suatu kelompok/pihak/orang/hal tunggal bukanlah hal yang bijak. Karena tidak mustahil, sang faktor sekunderlah yang justru menyulut terjadinya konflik.

Kedua, ada adegan di mana dua orang pemerannya berpindah agama berdasarkan keyakinan hati mereka masing-masing. Adegan ini memberikan penekanan bahwa hak-hak setiap individu untuk memilih, tak perlu diperdebatkan, apalagi dipermasalahkan. Dalam ajaran agama pun sebenarnya hal ini sudah memiliki dasar, seperti ayat yang ada dalam Al Quran di bawah ini, hanya saja individu-individunya terkadang tidak memahaminya, tidak menjalankannya, atau tidak memedulikannya atau bahkan tidak mengetahui sama sekali!.

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Al-Kafiruun:6)

**bahwa perbedaan itu memang akan selalu ada, dan hak itupun melekat pada setiap individu, mengapa harus memaksakan keseragaman yang mustahil sampai-sampai menimbulkan perpecahan?

Ketiga, perbedaan antarkomunitas beragama dan antarindividu memang nyata adanya dan kerap menimbulkan konflik yang pelik, bahkan terkadang hingga menimbulkan perpecahan, pertikaian, dan pertumpahan darah yang menelan korban. Namun, di film ini penonton disodorkan harapan baru bahwa hal-hal tersebut ternyata TIDAK MUSTAHIL untuk tidak terjadi. Dan penonton pun bisa paham bahwa toleransi dalam masyarakat yang hetero adalah mutlak. Wajib dan harus, tidak bisa tidak! Jika kita mendambakan kehidupan yang damai.

Menarik dan menghibur

Singkat kata, dalam opini saya, Hanung Bramantyo memang pandai mengemas film ini agar tetap menarik dan memunculkan unsur hiburan di tengah-tengah bobot cerita yang cukup berat. Celotehan-celotehan Surya yang diperankan oleh Agus Kuncoro merupakan salah satu “kunci” munculnya tawa dalam film ini. Gelak tawa terus terdengar dalam ritme tertentu sepanjang film ini diputar. Sungguh menarik! Walaupun tidak dapat dikatakan sempurna, namun perpaduan yang dituangkan dalam film ini cukup menjadikan film ini patut ditonton oleh masyarakat Indonesia dan patut masuk dalam kategori film “bermutu” dalam daftar panjang film Indonesia. []

“Komik Strip” dan Tawa dari Masa ke Masa

“Komik Strip” dan Tawa dari Masa ke Masa

“HAHAHAHA… ,” tertawa itu menyenangkan bukan? Konon, saat kita tertawa, kita melibatkan 15 otot wajah dan lebih dari 80 otot di seluruh tubuh kita. Pada saat tertawa itu tubuh kita secara otomatis mengeluarkan zat endofrin yang membuat kita merasa nyaman dan tenang, dan hormon dopamin […]